Rote Ndao | Timpost.id – Festival Budaya Rote Malole kembali digelar di Kabupaten Rote Ndao. Perhelatan budaya ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pelestarian tradisi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya masyarakat Nusa Lontar kepada masyarakat luas.
Festival tersebut berlangsung meriah dengan melibatkan 16 kontingen. Setiap kontingen tampil membawa identitas, tradisi, busana, kesenian, serta berbagai ekspresi budaya yang menjadi kekayaan masyarakat.
Menariknya, festival tahun ini tidak hanya menampilkan budaya masyarakat Rote. Sejumlah paguyuban dari berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur turut mengambil bagian, di antaranya Paguyuban Helong, Alor, dan Sumba.
Dalam sambutan pada pembukaan Festival Budaya Rote Malole, Bupati Rote Ndao Paulus Henukh, S.H. menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya daerah sebagai bagian dari identitas masyarakat Rote Ndao.
Bupati menyampaikan bahwa kebudayaan merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai penting bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, pelestarian budaya tidak boleh hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda.
Menurutnya, Festival Budaya Rote Malole menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Rote Ndao sekaligus membangun kebanggaan masyarakat terhadap identitas daerah.
Bupati juga mengapresiasi keterlibatan 16 kontingen serta kehadiran Paguyuban Helong, Alor dan Sumba. Menurutnya, kehadiran berbagai paguyuban tersebut menunjukkan bahwa keberagaman budaya dapat menjadi kekuatan untuk mempererat persaudaraan dan kebersamaan.
Ia berharap Festival Budaya Rote Malole dapat terus dikembangkan sehingga tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk dalam mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Pembukaan Festival Budaya Rote Malole secara resmi ditandai dengan pemukulan gong.
Prosesi pembukaan tersebut dilakukan setelah seluruh rangkaian acara pembukaan berlangsung. Pemukulan gong secara khusus didaulat kepada perwakilan Bank Indonesia sebagai tanda dimulainya Festival Budaya Rote Malole.
Momen pemukulan gong tersebut menjadi simbol dimulainya perhelatan budaya yang mempertemukan berbagai kelompok masyarakat dalam satu panggung kebudayaan.
Keterlibatan perwakilan Bank Indonesia dan Bank NTT juga menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan yang tidak hanya mengangkat aspek kebudayaan, tetapi diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pengembangan ekonomi daerah dan ekonomi kreatif masyarakat.
Sebanyak 16 kontingen yang ambil bagian menjadi gambaran tingginya antusiasme masyarakat dalam menjaga dan memperkenalkan budaya daerah.
Masing-masing kontingen membawa ciri khasnya. Keberagaman tersebut menjadikan Festival Budaya Rote Malole bukan hanya sebagai pertunjukan, tetapi juga ruang perjumpaan antarkelompok masyarakat.
Keterlibatan Paguyuban Helong, Alor, dan Sumba semakin memperluas makna festival. Budaya Rote menjadi titik temu dengan budaya lain yang hidup dan berkembang di NTT.
Festival budaya juga memiliki nilai strategis bagi pembangunan daerah. Selain menjadi sarana pelestarian warisan leluhur, kegiatan semacam ini dapat menjadi media promosi potensi daerah, termasuk pariwisata dan ekonomi kreatif.
Kekayaan budaya yang dikemas secara menarik berpotensi menjadi daya tarik bagi wisatawan. Karena itu, festival budaya perlu terus dikembangkan secara konsisten agar tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan generasi muda. Tradisi, kesenian, bahasa, busana, dan berbagai warisan budaya akan kehilangan keberlanjutan apabila tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.
Festival Budaya Rote Malole dapat menjadi ruang edukasi bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus mencintai identitas budayanya.
Budaya lokal tidak harus dipertentangkan dengan perkembangan zaman. Sebaliknya, budaya dapat dikembangkan melalui kreativitas generasi muda tanpa kehilangan nilai dan jati diri yang menjadi akar masyarakat.
Festival Budaya Rote Malole akhirnya bukan sekadar panggung pertunjukan. Di balik kemeriahan 16 kontingen, kehadiran Paguyuban Helong, Alor dan Sumba, serta prosesi pemukulan gong oleh perwakilan Bank Indonesia, tersimpan pesan penting bahwa kebudayaan merupakan identitas yang harus dijaga, diwariskan, dan dikembangkan.
Rote Ndao memiliki kekayaan alam, tetapi juga memiliki kekayaan budaya yang tidak kalah penting. Ketika keduanya dikelola secara serius, kebudayaan dapat menjadi kekuatan sosial, ekonomi, sekaligus identitas daerah yang memperkenalkan wajah Nusa Tenggara Timur kepada masyarakat yang lebih luas.
Oscar Nalle












