KesehatanNasionalTerkini

Bakti Sosial Kesehatan Menembus Jarak Kupang–Amfoang, Kolaborasi Bawa Pelayanan Lebih Dekat ke Masyarakat

358
×

Bakti Sosial Kesehatan Menembus Jarak Kupang–Amfoang, Kolaborasi Bawa Pelayanan Lebih Dekat ke Masyarakat

Sebarkan artikel ini
gambar : Yohanes Hiba ndale Ketua Umum Forum pemuda NTT bersama Team setelah Melakukan kegiatan Bakti Sosial di Kupang,Nusa Tenggara Timur

 

AMFOANG, KABUPATEN KUPANG, Timpost.id — Jarak dan kondisi geografis tidak menjadi penghalang bagi upaya mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Hal itu terlihat dalam pelaksanaan Bakti Sosial Kesehatan di RS Pratama Amfoang, Kabupaten Kupang, yang menghadirkan berbagai layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah tersebut.

Perjalanan dari Kota Kupang menuju Amfoang bukan sekadar menempuh jarak. Jalan panjang, perbukitan, sungai, jembatan hingga kondisi geografis menjadi bagian dari perjalanan para tenaga kesehatan, relawan, organisasi sosial, dan komunitas yang datang membawa pelayanan.

Kegiatan tersebut terlaksana melalui koordinasi dan kolaborasi sejumlah pihak, yakni Pondok Curhat RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang, PERDAMI NTT, Rumah Sakit Kartini Kupang, Opa Gaul, Yayasan Peduli Cinta Indonesia, serta Forum Pemuda NTT Cendana Wangi.

Kolaborasi lintas lembaga dan komunitas itu menjadi kekuatan untuk menghadirkan pelayanan kesehatan lebih dekat dengan masyarakat Amfoang.

Berdasarkan data pelayanan yang dihimpun dalam kegiatan bakti sosial tersebut, terdapat ratusan masyarakat yang mendapatkan berbagai jenis pelayanan kesehatan.

Sebanyak 132 orang mendapatkan pelayanan sunatan, sementara 34 orang mendapatkan tindakan bedah minor.

Pada pelayanan mata, tercatat 47 orang mendapatkan pelayanan katarak dan pterigium. Selain itu, sebanyak 140 pasien mendapatkan pelayanan rawat jalan di Poli Mata.

Baca Juga :  AKBP Roby Heri Saputra Terbukti Langgar Kode Etik Polri, Dijatuhi Sanksi 7 Hari Penempatan Khusus

Pelayanan juga menyasar lingkungan sekolah. Sebanyak 167 anak mendapatkan pemeriksaan golongan darah.

Sementara itu, pelayanan kesehatan perempuan melalui skrining Pap smear diikuti oleh 28 orang.

Data tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan di wilayah Amfoang cukup beragam, mulai dari pelayanan dasar, tindakan medis, kesehatan mata, pemeriksaan anak sekolah hingga skrining kesehatan perempuan.

Perjalanan menuju Amfoang sekaligus memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan tidak dapat dipisahkan dari persoalan akses dan konektivitas.

Jalan, jembatan, drainase, gorong-gorong, talud, lereng dan sungai merupakan bagian dari infrastruktur yang turut menentukan kemudahan masyarakat dalam menjangkau berbagai pelayanan publik.

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan tantangan geografis, perjalanan menuju fasilitas kesehatan dapat menjadi persoalan tersendiri.

Karena itu, konektivitas memiliki hubungan erat dengan akses pelayanan publik.

Jalan menghubungkan wilayah, sementara pelayanan kesehatan menjangkau manusia.

Ketika keduanya bertemu, jarak geografis yang sebelumnya menjadi tantangan dapat perlahan dijembatani.

Pelaksanaan bakti sosial kesehatan di Amfoang juga menjadi gambaran bahwa pelayanan masyarakat dapat diperkuat melalui kolaborasi.

Pondok Curhat RSUD Prof. Dr. W.Z. Johannes Kupang, PERDAMI NTT, Rumah Sakit Kartini Kupang, Opa Gaul, Yayasan Peduli Cinta Indonesia, dan Forum Pemuda NTT Cendana Wangi hadir dengan kapasitas serta kontribusi masing-masing.

Baca Juga :  Gelombang Mogok Ekspedisi Menguat! Tiga Koordinator Tandatangani Surat, ASDP Rote Ndao Disorot.

Tenaga kesehatan memberikan pelayanan medis, sementara unsur komunitas dan relawan mendukung rangkaian kegiatan di lapangan.

Kolaborasi tersebut tidak berhenti pada koordinasi di atas kertas. Di lapangan, kolaborasi terlihat dari tenaga, waktu, pelayanan, komunikasi dan interaksi langsung dengan masyarakat.

Semua bergerak dalam satu tujuan, yakni menghadirkan pelayanan yang lebih dekat bagi masyarakat yang berada jauh dari pusat kota.

Bagi Gonzalvus Ricardo Otang, yang turut mengikuti perjalanan dan merasakan langsung kegiatan di lapangan, angka-angka pelayanan tersebut memiliki cerita kemanusiaan di baliknya.

Sebanyak 47 pasien yang mendapatkan pelayanan katarak dan pterigium bukan sekadar angka dalam laporan. Di baliknya terdapat harapan masyarakat untuk memperoleh penglihatan yang lebih baik.

Begitu pula dengan 140 pasien Poli Mata. Mereka datang dengan keluhan dan kebutuhan masing-masing untuk mendapatkan pemeriksaan serta pelayanan kesehatan.

Sementara 167 anak yang menjalani pemeriksaan golongan darah merupakan bagian dari upaya mengenalkan pentingnya mengetahui kondisi kesehatan sejak usia sekolah.

Demikian pula dengan 28 perempuan yang mengikuti skrining Pap smear. Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari perhatian terhadap kesehatan perempuan.

Setiap angka dalam laporan pelayanan pada akhirnya mewakili manusia, keluarga, kebutuhan dan harapan.

Baca Juga :  Mayjen TNI Thevi Angandowa Zebua Resmi Jadi Pangdam Pertama XXVII/Sobe Sonbai NTT

Perjalanan Kupang–Amfoang memberikan gambaran bahwa pembangunan tidak semata-mata diukur dari panjang jalan yang dibangun atau jumlah infrastruktur yang berdiri.

Pembangunan juga dapat dilihat dari seberapa dekat pelayanan publik dapat dirasakan masyarakat.

Seberapa mudah seorang pasien memperoleh pertolongan.

Seberapa cepat masyarakat mendapatkan pemeriksaan.

Seberapa jauh tenaga kesehatan mampu menjangkau wilayah yang memiliki tantangan geografis.

Dan seberapa besar masyarakat merasakan bahwa mereka tidak berjalan sendiri.

Bakti sosial kesehatan di RS Pratama Amfoang menjadi salah satu gambaran bahwa kolaborasi dapat menjadi jembatan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

Dari Kota Kupang menuju Amfoang, perjalanan panjang tersebut akhirnya bukan sekadar perjalanan menempuh jarak.

Ada pelayanan yang dibawa.

Ada kepedulian yang diberikan.

Ada kolaborasi yang dibangun.

Dan ada harapan masyarakat yang ingin terus dijaga.

Sebab, pada akhirnya, jalan bukan hanya menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya.

Jalan juga menghubungkan manusia dengan manusia.

Ketika pelayanan kesehatan hadir di ujung perjalanan tersebut, jarak geografis berubah menjadi sebuah jembatan kemanusiaan.

Jalan yang menghubungkan wilayah.

Kolaborasi yang mendekatkan pelayanan.

Kemanusiaan yang menembus jarak.

 

Ditulis oleh: Gonzalvus Ricardo Otang

Baku Lihat

Baku Jaga

Baku Sayang

Daerah

ROTE NDAO, TIMPOST.ID – Ditengah proses pembangunan Gedung…